Wednesday, April 22, 2009

Kiamat Sudah Datang

Dari ufuk timur terlihat sebuah sinar yang begitu terangnya menggantikan cahaya rembulan yang mulai bersembunyi. Cerahnya pagi telah menggantikan malam. Bintang-bintang di langit bersembunyi dari pandangan manusia. Begitulah perjalannan waktu, pergantian masa yang sudah menjadi sunnatullah. Allahlah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.

Pagi itu kami (aku dan rombongan) meluncur ke kota Tuban. Berangkat pukul 07.000 dari Sayung (sebuah daerah paling barat di kota Demak yang berbatasan dengan kota Semarang). Dengan jumlah kurang lebih 50 orang kami menggunakan bus menuju Kadilangu, sebuah desa dimana terdapat salah satu makam walisongo yaitu Raden Syahid yang kita kenal dengan sebutan Sunan Kalijaga. Iya… perjalanan kali ini adalah -rihlah wisata ziarah- perjalanan berkunjung/berziarah ke beberapa makam walisongo dan wisata tadabbur alam ke “Goa Akbar”. Makam walisongo yang kami kunjungi adalah makam Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Sungguh perjalanan yang penuh makna jika manusia mau berfikir tentang semua ciptaan-Nya. Semua kejadian yang terjadi di bumi Allah ini termasuk peristiwa kematian. Salah satu tujuan kita berziarah adalah untuk memngingat kematian. Sebagaimana Rasulullah tidak melarang umatnya untuk melakukan ziarah kubur tak lain adalah agar kita manusia mau mengingat peristiwa kiamat kecil ini. Sebuah peristiwa yang akan dialami oleh setiap insan yang bernyawa. Termasuk Waliyullah yang kami kunjungi kali ini, kiamat kecil itu sudah mendatangi meraka. Kematian tidak kenal siapa, kapan dan dimana. Kalau Allah sudah memerintahkan Izrail untuk mencabut nyawa maka kita manusia tidak bisa menghindar, berlari untuk menyelamatkan diri bahkan bersembunyi sekalipun. Sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh Sang Hujjatul Islam Imam Ghazali kepada muridnya, “Apa yang paling dekat dengan kita?” beberapa muridnya ada yang menjawab yang paling dekat dengan kita adalah orangtua kita, anak kita, saudara kita. Semua jawaban itu benar kata Sang Imam, tapi ketahuilah ada yang lebih dekat dengan kita yaitu kematian. Sudah menjadi ketetapan Allah kalau kamatian ini dekat dengan kita. Karena kemanapun dan dimanapun kita berada dia akan menjemput kita. Karena itu persiapkanlah bekal kita untuk perjalanan hidup selanjutnya sebelum yang menjemput kita datang.

Sudah tidak menjadi rahasia lagi kalau peristiwa kematian ini menjadi rahasia Allah. Manusia tidak tahu kapan, dimana dan dalam kondisi sedang apa dia akan kedatangan tamu yang bernama Izrail. Ada sebuah rahasia kenapa Allah merahasiakan tentang kematian ini. Pertama, agar kita tidak “cinta dunia”. Salah satu penyakit hati yang menjadikan kita lupa akan akhirat, lupa akan ada hidup setelah mati, lupa bahwa semua amal kita di dunia ini harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Itulah rahasia pertama kenapa Allah merahasiakan kematian agar kita tidak cinta kepada dunia hingga membuat kita lupa akan ada kehidupan setelah kematian. Kedua, tidak menunda amal kebaikan. Kalaupun kita diberi tahu bahwa besuk kita akan mati sudah sangat wajar dan pasti kita akan berbuat baik untuk hari ini. Tapi kenapa kematian tidak diberi tahukan sebelumnya, hal itu karena agar kita tidak lagi menunda-nunda untuk berbuat baik. Kita tidak tahu, mungkin satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu atau kapan pun kita akan mati. Maka dengan begitu kita akan senantiasa berusaha berbuat kebaikan untuk mempersiapkan bekal jika sewaktu-waktu Izrail datang. Ketiga, mencegah maksiat. Orang mati itu sesuai dengan kebiasaanya. Tidak jarang kita temui, kita mendengar berita orang mati dalam kondisi mabuk, orang mati dalam kondisi bermaksiat (na’udzubillah mindzalik). Jangan sampai kita mempunyai kebiasaan buruk yang nantinya bisa membawa kita sampai pada ujung hidup kita. Mati dalam kondisi su’ulkhotimah. Yang kita harapkan adalah mati dengan akhir yang baik. Semoga… dan yang keempat kenapa Allah merahasiakan kematian adalah karena Dia ingin hambanya menjadi manusia yang cerdas. Hamba yang cerdas mampu mengubah sesuatu yang bersifat fana (rusak) menjadi baqa (kekal). Mengubah kehidupan dunia yang fana menjadi kekal. Mengubah harta yang fana yang dia miliki menjadi harta yang kekal. Bersedekah mampu mengubah harta kita yang fana menjadi kekal, menjadi infestasi yang dapat kita nikmati manfaatnya sampai besuk di akherat….

Dia tamu yang tak diundang, tamu yang datang atas perintah Allah. Yang siap menjemput kita kapan pun dan dimanapun. Dialah Izrail Sang Pencabut nyawa. Sudahkah kita siap untuk menyambut kedatangnnya…? Mari persiapkan mulai detik ini…untuk menyambut kehadirannya karena kita tidak tahu kapan dia akan datang…yang pasti kiamat kecil ini sudah mendatangi para pendahulu kita, kini tinggal menunggu giliran kapan kiamat itu datang kepada kita…


Wednesday, April 08, 2009

Terima Kasih telah Menggigitku

Malam itu tepatnya hari Salasa malam atau malam Rabu jarum jam menunjuk pukul sepuluh malam. Mata ini belum terasa mengantuk meskipun badan ini ingin beristirahat. Tanganku mengambil remote tv yang tak jauh dari aku dan aku pun menyalakannya. Muncul dilayar tv sebuah acara yang dibawakan oleh Iwel Wel yaitu acara “Kursi Panas” yang menghadirkan bintang tamu para kandidat RI-1 dan yang menjadi bintang tamu waktu itu adalah Mas Rizal Ramli….( kok jadi ngomongin acara tv). Aku pun melihatnya sampai acara selesai dan mata ini pun belum mau terpejam. Akhirnya setelah mencoba untuk memejamkan mata yang diawali dengan berdo’a “Bismikallahumma Ahya wa Amut” mata ini mulai mengantuk setelah seharian melakukan berbagai aktivitas. “Dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup”. Aku mencoba membaringkan tubuh ini dengan posisi miring ke kanan dengan niat dan harapan nanti bisa bangun malam, karena menurut analisa Ibnu Hajar bahwa orang yang tidur dengan miring ke sebelah kanan dapat mempercepat bangunnya; hati itu tergantung kepada bagain badan sebelah kanan. Sedang menurut Ibnu Aj-Jauzi, dengan mengutip pendapat para ahli kesehatan, bahwa tidur demikian menurut ilmu kesehatan dapat menyehatkan badan. Membaringkan badan dengan memulai ke sebelah kanan dapat menurunkan makanan, sedangkan tidur dengan miring ke kiri menyebabkan limpa menekan ke lambung. Tak terasa aku pun terlelap dalam mimpi indah…

Sungguh Allah Sang Mahapencipta yang sempurna. Yang telah menciptakan waktu siang dan malam agar manusia bisa bekerja, beramal dan beristirahat. Ketika aku pulas dalam tidurku tiba-tiba ada nyamuk yang menggigit aku. Saat itu juga aku pun terbangun. Dan aku membuka mata yang masih ngantuk ini melihat jam yang menempel di dinding. Jarum jam menunjuk ke angka 4 (kurang sedikit) dan jarum menit menunjuk ke angka 6. Berarti waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 atau setengan empat. “Alhamdulillahilladziahyana ba’dama amatana wa ilahinnusyur”. “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kematian kami. Hanya kepada-Nya lah kami kembali". Aku pun bangun, berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu untuk qiyamul lail. Memang tidak ada yang sia-sia dari semua yang Allah ciptakan. Termasuk penciptan binatang yang bernama nyamuk. Mungkin kita berfikir bahwa nyamuk itu sumber penyakit bagi manusia. Tapi malam itu Allah telah membangunkan aku dari tidurku dengan gigitan nyamuk. Mungkin saja kalau nyamuk itu tidak menggigitku aku tidak akan bangun dan ber-qiyamul lail. Terima kasih engkau (nyamuk) telah menggigitku. Terima kasih ya Allah… Engkau telah mengirimkan nyamuk itu untuk membangunkan hamba-Mu yang terlelap dalam tidurnya supaya bermunajat, berdzikir dan berdo’a kepada-Mu.

Wednesday, January 14, 2009

Mungkin Alam Mulai Bosan ...


Air dari langit itu selalu mengguyur bumi kita. Lebih-lebih di bulan Januari ini hampir tiap hari bumi kita dibasahi oleh air yang turun akibat gumpalan awan di langit. Sampai-sampai orang menyebut Januari sebagai akronim yang mempunyai kepanjangan hujan sehari-hari. Karena, tidak pagi, siang atau sore bahkan malam hari hujan terus mengguyur. Seolah-olah tak kenal waktu. Begitulah kalau Allah Swt sudah berkehendak. Tidak ada seoarang pun yang bisa menghalangi. Allah mempunyai sifat Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu. Allah berhak untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. Jadi hujan atau tidak itu semua sudah hak/wewenang Allah sebagai Rabbul’alamin (penguasa alam).

Iya...hujan akhir-akhir ini membuat kota Semarang tergenang. Hampir di jalan-jalan yang setiap hari aku lalui setiap kali berangkat kerja tertutup oleh air. Tidak hanya tertutup oleh air langit tapi juga air laut (baca: air rob) yang selalu sampai ke badan jalan karena saluran yang ada sudah tidak lagi bisa menampung banyaknya air yang masuk. Sudah beberapa hari ini ketika berangkat dan pulang kerja aku selalu dihadang banjir. Tak terkecuali tadi pagi, aku pun menerjang banjir. Setelah semalaman hujan mengguyur air yang tergenang semakin tinggi bahkan banjir makin meluas. Jalan yang kemarin belum tersentuh air kini sudah setinggi 10-30 Cm. Air sebagai sumber kehidupan seharusnya menjadi sahabat bagi makhuk hidup termasuk kita ini, manusia. Tetapi ketika jumlah air itu sudah over bisa jadi menjadi bencana bagi manusia. Apapun kondisinya tergantung kita menyikapinya. Mungkin Allah Sang pencipta air ini ingin memberi pelajaran bagi makhluknya. Manusia yang dalam penciptaannya dilengkapi dengan akal diperintahkan untuk berfikir. ”Tafakkaruu fi kholqillah wa latafakkaru fi dzatillah” (Berfikirlah tentang ciptaan-Nya jangan berfikir tentang dzat-Nya).


Barangkali Allah ingin memberi peringatan dengan datangnya banjir dimana-mana. Kadang manusia tanpa sadar telah melakukan hal-hal yang melanggar agama. Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi ini diberi kepercayaan untuk mengelola alam. Namun sebagian dari kita ada yang lupa dan tanpa sadar telah merusak alam sekitar kita. Perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan alam (seperti : membuang sampah sembarangan & menebang pohon dengan liar) sepertinya membuat alam ini sudah bosan bersahabat dengan kita ( kaya lagunya Kang Ebiet ni...). Kalau alam sudah enggan bersahat dengan kita beginilah jadinya. Banjir dimana-mana, tanah longsor melanda.

Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan manusia. Supaya Allah SWT merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar. ( QS AR Ruum : 41 )

Jelas bahwa sesungguhnya kerusakan lingkungan baik itu didarat seperti; kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, penyakit menular, maupun dilaut seperti; pencemeran air laut, matinya flora laut, punahnya ikan dan makhluk hidup laut lainnya, adalah mata rantai dari kerusakan lingkungan akibat perbuatan manusia.

Kondisi semacam ini menjadi peringatan bagi kita. Bagaimana kita menjawab kejadian-kejadian ini. Bagaimana kita merespon alarm dari Sang Pencipta. Menurut ayat di atas jawabannya adalah supaya kita kembali ke jalan yang benar. Betuuul...kalau selama ini kita telah berbuat salah mari kita perbaiki kesalahan kita. Karena manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah berbuat salah tetapi manusia yang baik adalah manusia yang pernah berbuat salah dan mau memperbaikinya. Dan jika selama ini kita memusuhi alam mari mulai sekarang kita kembali bersahabat dengan alam.