Friday, September 19, 2008

Si Miskin & Si Kaya

Apa sih sebenarnya yang membedakan antara orang miskin dan orang kaya. Sudah menjadi jawaban umum kalau hartalah yang menjadi pembeda antara keduanya. Orang yang berpenghasilan tinggi bisa juga disebut sebagai orang kaya atau sebaliknya orang miskin adalah orang yang penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Namun beda halnya jika ditinjau dari kacamata agama Islam. Dalam konsepsi Islam, yang membedakan antara orang kaya dengan orang miskin ialah rasa syukur manusia atas karunia Allah. Orang kaya adalah insan yang tak pernah lupa mensyukuri setiap kenikmatan yang diperolehnya. Sedang orang miskin adalah kelompok yang lalai bersyukur, kufur dan merasa tiap karunia yang didapatnya bukan karena campur tangan Allah.
Dalam kisah, Nabi Musa a.s pernah didatangi orang kaya dan orang miskin (materi). Si-kaya minta agar dia didoakan menjadi orang miskin sedangkan si-miskin mohon agar didoakan menjadi orang kaya. Maka Musa meminta yang kaya agar dia menjadi orang yang kufur nikmat. Namun si-kaya menjawab, “Bagaimana bisa kufur kalau segala kebutuhan yang kuperlukan sudah tersedia dan aku tinggal menggunakannya.” Kemudian Musa berkata, “Itulah sebabnya kamu tidak bisa miskin karena kamu selalu bersyukur.”
Kepada si-miskin, Musa meminta sebaliknya agar dia menjadi orang yang bersyukur. Tapi orang tersebut menjawab, “Bagaimana aku dapat bersyukur kalau aku tak memiliki apa-apa. Untuk beribadah saja aku tak memiliki alat ibadah yang memadai.” Musa pun kembali menegaskan, “Itulah sebabnya kamu tidak bisa menjadi kaya karena kamu tidak mau bersyukur dengan apa yang ada.”
Dari kisah tersebut, inti bersyukur adalah kemampuan kita memanfaatkan apa yang telah dimiliki seoptimal mungkin untuk beribadah kepada Allah. Meminjam istilah ekonomi, orang yang bersyukur adalah insan yang mampu mengolah modal minimum untuk menghasilkan pendapatan yang maksimum. Atau bersyukur merupakan sikap dewasa seorang muslim untuk menjadikan hak kepemilikannya bernilai keberkahan (barokah).
Bukankah Allah telah menjanjikan tawaran yang luar biasa bagi orang bersyukur, seperti firman-Nya,
“Barangsiapa yang mampu bersyukur (mengoptimalkan hartanya) kepada (di jalan) Allah maka (yakinlah) Allah akan melipatgandakan nikmat-Nya” QS. Ibrohim : 7
Sudah pasti manfaat syukur itu akan kembali dirasakan manusia sebagai subjek syukur, bukan kembali kepada Allah karena Dialah Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi. Semoga kita bisa menjadi manusia yang pandai mensyukuri segala karunia-Nya.....

Friday, July 11, 2008

Manusia dan Pengamen

Cerita dari warung tenda - Part 2 (habis)


Masih dalam suasana menunggu datangnya makanan & minuman yang baru dipesan. Datang seorang pengamen. “Selamat Malam…!” sapa si pengamen. Baru setelah itu mulailah dia melantunkan lagu. Lagu yang dipersembahkan untuk penikmat warung tenda dengan harapan mendapatkan sejumlah uang. Belum selesai syair lagu itu dinyanyikan temen saya mengeluarkan uang kertas seribu dan diberikan kepada si pengamen itu. Namun setelah uang seribu itu diterima oleh si pengamen itu dia langsung saja pergi. Teman saya yang memberi uang seribu tadi sedikit kecewa sambil berucap, ”Mendingan jangan dikasih duit dulu ya ! daripada dikasih duit malah pergi padahal lagunya belum selesai dinyanyikan”.


Begitulah kadang2 sifat manusia. Seperti halnya pengamen diatas. Setelah menerima uang dia langsung saja pergi. Manusia ketika butuh sesuatu atau dalam kesulitan pasti dia akan sering meminta/berdo’a kepada Allah bahkan tak pernah berhenti untuk berdo’a di setiap waktu. Berharap permintaannya dikabulkan oleh Allah, Swt. Namun ketika Allah mengabulkan do’anya manusia itu malah pergi meninggalkan-Nya. Manusia akan dekat kepada Tuhannya disaat membutuhkan sesuatu, diwaktu terkena musibah, ataupun saat ditimpa cobaan. Namun seringkali manusia lupa pada Yang Maha Pemberi disaat ia sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, ketika mereka mendapatkan anugerah kenikmatan dan lain sebagainya. Padahal semua itu adalah karunia dari Allah, Swt. Anugerah dari Tuhan yang Maha Pengasih tanpa pilih kasih dan Maha Penyanyang kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa.


Sebenarnya Allah itu lebih suka mendengar hamba-Nya yang ”bernyanyi” meminta kepada-Nya. Jadi jangan bosan-bosan untuk berdo’a kepada-Nya. Jangan kita mendekat kalau butuh saja sedangkan kalau tidak butuh malah menjauh. Jadi ingat lagu yang dinyanyikan Bimbo yang bunyi syairnya : ”aku jauh Engkau Jauh, aku dekat Engkau dekat”. Sepertinya pas sekali lagunya. Allah akan mendekat jika hamba-Nya mau mendekat kepada-Nya. Bahkan Allah telah berjanji ”Berdo’alah kepada-Ku maka akan Aku kabulkan” Jangan ragukan janji-Nya. Siapa yang mau berdo’a kepada-Nya pasti akan dikabulkan. Teruslah berdo’a untuk meraih apa yang kita impikan. Iringi do’a dengan ikhtiyar & tawakkal. Yakinlah do’a kita didengar oleh Yang Maha Kekal. Amien...



Friday, June 13, 2008

Tergantung Amal

Cerita dari warung tenda - Part 1


Rabu itu sehabis pulang dari kerja. Saya & teman-teman diajak makan malam bareng oleh salah seorang teman kantor. Warung makan tenda di Jl. Moh. Suyudi Semarang akhirnya menjadi tempat pilihan untuk makan dengan menu bakmi spesial. Sesampainya di warung tenda itu seorang pelayan pun menghampiri kita dengan menyodorkan dua lembar kertas yang satu berisi daftar menu makanan dan lembar satunya lagi berisi daftar minuman. Kami pun memesan makanan dan minuman. Ditengah menunggu makanan & minuman yang dipesan datang, terjadi obrolan ringan diantara kami. Satu teman ada yang berucap sambil menyeka keringat di dahinya : ”wah hawanya panas sekali ya..?”. Teman yang satu lagi menimpalinya, ”panas gak nya kan tergantung amal Pak ...!”. Spontan kami pun tertawa mendengar jawaban tadi. Obrolan tadi kedengarannya sekilas memang membawa canda tawa. Namun setidaknya kita coba melihatnya dari kacamata agama. Memang benar juga apa yang dikatakan teman saya tadi bahwa panas gaknya tergantung amal. Saya tahu yang dimaksud teman saya dengan kalimat : panas gak nya kan tergantung amal adalah setiap amal/perbuatan kita di dunia ini pasti membawa konsekwensi besuk di akherat. ”Fa in khoiron fa khoirun, wa in syarron fa syarrun”. Yang baik akan dibalas baik dan yang buruk akan dibalas buruk. Barang siapa yang ketika di dunianya amalnya baik akan mendapat balasan surga, dan yang amalnya buruk balasannya adalah neraka. Siapa menanam dia akan menuai. Siapa yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan begitu juga sebaliknya siapa yang menanam keburukan dia akan menuai keburukan. Begitulah sunnatullah. Berfikirlah sebelum berbuat jangan sebaliknya berbuat baru berfikir karena apa pun yang kita perbuat di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, Swt besuk di akherat. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang senantiasa mejaga amal kebaikan dan menjauh dari amal buruk. Semoga...