Friday, June 13, 2008

Tergantung Amal

Cerita dari warung tenda - Part 1


Rabu itu sehabis pulang dari kerja. Saya & teman-teman diajak makan malam bareng oleh salah seorang teman kantor. Warung makan tenda di Jl. Moh. Suyudi Semarang akhirnya menjadi tempat pilihan untuk makan dengan menu bakmi spesial. Sesampainya di warung tenda itu seorang pelayan pun menghampiri kita dengan menyodorkan dua lembar kertas yang satu berisi daftar menu makanan dan lembar satunya lagi berisi daftar minuman. Kami pun memesan makanan dan minuman. Ditengah menunggu makanan & minuman yang dipesan datang, terjadi obrolan ringan diantara kami. Satu teman ada yang berucap sambil menyeka keringat di dahinya : ”wah hawanya panas sekali ya..?”. Teman yang satu lagi menimpalinya, ”panas gak nya kan tergantung amal Pak ...!”. Spontan kami pun tertawa mendengar jawaban tadi. Obrolan tadi kedengarannya sekilas memang membawa canda tawa. Namun setidaknya kita coba melihatnya dari kacamata agama. Memang benar juga apa yang dikatakan teman saya tadi bahwa panas gaknya tergantung amal. Saya tahu yang dimaksud teman saya dengan kalimat : panas gak nya kan tergantung amal adalah setiap amal/perbuatan kita di dunia ini pasti membawa konsekwensi besuk di akherat. ”Fa in khoiron fa khoirun, wa in syarron fa syarrun”. Yang baik akan dibalas baik dan yang buruk akan dibalas buruk. Barang siapa yang ketika di dunianya amalnya baik akan mendapat balasan surga, dan yang amalnya buruk balasannya adalah neraka. Siapa menanam dia akan menuai. Siapa yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan begitu juga sebaliknya siapa yang menanam keburukan dia akan menuai keburukan. Begitulah sunnatullah. Berfikirlah sebelum berbuat jangan sebaliknya berbuat baru berfikir karena apa pun yang kita perbuat di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, Swt besuk di akherat. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang senantiasa mejaga amal kebaikan dan menjauh dari amal buruk. Semoga...



Wednesday, April 30, 2008

Terima Kasih “Cinta”

Sore itu menjelang maghrib terdengar bunyi nada dari HP saya. Setelah aku buka rupanya ada pesan yang masuk, sebuah SMS dari seorang teman yang meminta saya untuk mengisi sebuah kajian adik-adik ROHIS di sebuah SMA di Demak.”Bs ngisi kajian perdana di SMA 3 bsk Sbt jm.12 tema bebas?” begitu pesan tulisan yang saya terima. “Insya Allah bs”, aku mereplay sms nya.

Sabtu 26 April, saat itu matahari cerah sekali memancarkan sinarnya sehingga terasa panas pada siang hari itu. Hari itu aku ada janji untuk mengisi kajian di SMA 3. Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 aku pun bersiap-siap berangkat memenuhi permintaan temanku itu. Tepat jam dua belas kurang seperempat menit aku meluncur dari rumah menuju ke SMA 3 yang berjarak kurang lebih 13 km. Perjalanan menuju kesana sedikit kurang lancar karena jalanan macet. Rupanya masih ada perkerjaan perbaikan jalan yang rusak, tahu sendiri akibat tingginya curah hujan akhir2 ini membuat jalan sepanjang pantura banyak yang berlubang. Dengan menaiki sepeda motor saya terus melewati jalan yang penuh dengan sirtu (pasir & batu). Debu beterbangan kemana-mana seolah menyapa setiap orang yang melewati jalan itu. Si debu pun menyapa saya. Benda kecil itu hampir masuk ke mata saya, alhamdulillah dengan sigap mata ini berkedip seolah melindungi indera penglihatan ini dari serangan debu itu. Dan debu itupun tidak berhasil masuk ke dalam mata. Begitu hebatnya pencipta indera penglihatan manusia ini. Tanpa kita sadari atau tidak Allah telah menggerakkan mata kita, melindungi mata kita dan mengusap mata kita setiap kali ada ”musuh” mau menyerang. Sungguh kita sebagai makhluk-Nya pantas bersyukur karena begitu besar karunia Allah yang diberikan kepada manusia. Itu baru nikmat kedipan mata. Begitu besarnya bahkan kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Pernah saya membaca sebuah buku bahwa manusia berkedip sebanyak 60-80 kali dalam semenit. Ambilllah rata2 kita berkedip sebanyak 70x dalam satu menit. Coba mari kita hitung; dalam satu jam kita berkedip 70x60=4.200 kali. Kalau dalam sehari kita berkedip sebanyak 4.200x24=100.800 kali. Itu berarti Allah telah mengusap mata kita sebanyak 100.800 kali dalam sehari. Dan itu baru hitungan satu hari. Sekarang ini kita sudah hidup di dunia berapa hari, berapa minggu, berapa bulan bahkan berapa tahun?. Tak terhitung berapa kali Allah mengusap mata kita. Tanpa kita perintah Allah selalu dan tidak henti2nya mengusap mata kita, selain itu juga setiap kali mata kita kemasukan benda asing pasti akan mengeluarkan air mata yang berfungsi untuk melumasi mata ini supaya tidak iritasi. Itu semua gratis tanpa dipungut biaya. Coba kalau kita diminta bayaran sudah berapa rupiah yang harus kita keluarkan untuk membeli ”oli pelumas” mata. Syukur tiada terkira aku persembahkan untuk-Mu Ya Allah.... Begitu besar Cinta-Mu pada setiap makhluk.

Akhirnya... sampai juga saya di SMA 3 ...
Setibanya disana sudah masuk waktu dhuhur, saya pun menuju ke Musholla untuk menunaikan sholat,
Bertemu & bersilaturrahim dengan adik2 ROHIS yang bersemangat mengikuti kajian siang itu,
Tepat pukul 14.15 kajian berakhir saya pun pulang menuju ke rumah
Hari itu sungguh hari yang menyenangkan...


Jadi ingat sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Afgan...
judulnya ”Terima Kasih Cinta” Syairnya aku kutip di bawah tulisan ini karena menginspirasi saya untuk selalu bersyukur...

-----------

Tersadar, didalam sepi ku,
setelah jauh melangkah.

Cahaya kasih-Mu, menuntun ku,
kembali dalam, dekap tangan-Mu.

Terima kasih ”Cinta”,
untuk segalanya,
Kau berikan lagi,
kesempatan itu.
Tak akan terulang lagi,
semua…
kesalahan ku,
yang pernah menyakiti-Mu.

Tanpa-Mu, tiada berarti,
tak mampu lagi berdiri.

-----------------

Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat & karunia-Mu
Masih Engkau beri hamba kesempatan hidup
Maafkan hamba-Mu ini yang seringkali lupa menyukuri setiap detik ni’mat-Mu
Semoga Engkau mengampuni dosa2 hamba &
Hamba tak kan mengulangi kealphaan & kekhilafan di masa lalu
Tiada yang dapat menjaga kehidupan hamba ini kecuali hanya Engkau
Karena Engkau lah Yangmencipta dan Engkau pula Yangmenjaga

Wednesday, March 26, 2008

Pusing “7 “ keliling….

Belajar dari Angka

Angka tujuh memang sangat unik. Bahkan kita sering dengar istilah atau ungkapan yang berkaitan dengan angka tujuh walaupun sebenarnya gak ada hubungannya dengan angka tujuh itu. Semisal pusing tujuh keliling (seperti judul tulisan ini), tujuh turunan. Yang menjadi pertanyaan kenapa yang dipakai itu angka 7 bukan angka lainnya seperti 2, 4, 6 atau angka lainnya? Silakan Anda menjawab sendiri.

Tapi yang pasti angka 7 itu memiliki karakteristik sendiri. Dan satu lagi Allah menciptakan angka tujuh ini bukan secara kebetulan. Allah menciptakan alam ini maupun peristiwa pergantian malam dan siang adalah dengan Iradah-Nya (kehendak/kesengajaan). Ternyata ada beberapa yang istimewa berkaitan dengan angka 7 itu sendiri, diantaranya yaitu :

  • ada 7 lubang yg kita basuh disetiap kali kita berwudlu, yaitu 2 mata (membasuh penglihatan yang sering tidak terarah), 2 lubang hidung ( membasuh penafasan agar tetap suci & terjaga), 2 lubang telinga (membasuh pendengaran yang sering salah) dan 1 mulut kita (membasuh kesalahan & kehilafan yang sering dilakukan)
  • ada 7 anggota tubuh kita yang mendukung kita saat kita bersujud ( 2 telapak tangan, 2 lutut, 2 ujung kaki dan 1 jidad)
  • jumlah hari juga ada 7 ( ahad, senin, selasa, rabu, kamis, jum’at & sabtu)
  • Thowaf, sa’i, lempar jumrah juga 7 kali
  • Ada 7 ayat yang menjadi rukun shalat yaitu ummul kitab:al Fatihah yang terdiri dari 7 ayat

  • Nabi Muhammad ketika menerima perintah sholat juga di langit tingkat 7 (inget peristiwa Mi’raj)

  • Warna yang terurai pada cahaya juga ada 7 (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu).

Selain itu dalam ilmu matematika angka tujuh itu memiliki karakteristik tersendiri yaitu merupakan salah satu angka yang tidak bisa dibagi-bagi / dipecah oleh bilangan lain kecuali oleh angka 1 dan angka 7 itu sendiri. Mengapa demikian?

Ada 2 alasan : pertama, secara matematis karena angka 7 adalah bilangan Prima, yang kedua secara filosofi, karena angka 7 adalah angka yang ”tahu” bahwa yang bisa ”memahami” jati dirinya hanyalah angka satu dan tujuh itu sendiri.

Inilah salah satu karakteristik seorang yang beriman. Hendaknya ia memiliki karakter seperti angka tujuh. Seorang muslim harus memiliki konsistensi dan komitmen terhadap kebenaran yang sangat tinggi dan Prima. Ia tidak akan bisa dipecah, dibagi maupun dipengaruhi oleh orang lain, kecuali dirinya sendiri yang harus menentukan jalan hidupnya dengan bimbingan Yang MahaSATU yaitu Allah, Swt.


Dikutip dari ”menikmati keindahan Allah melalui logika & tanda2 oleh: HM.Taufik Jafri" dg perubahan seperlunya